terjemahan

5 Kesalahan Umum Terjemahan

mistakes

5 Kesalahan Umum yang Sering Dibuat Penerjemah Bahasa Pemula!

Terjemahan adalah tugas teknis yang membutuhkan keterampilan praktik secara langsung. Sebagai penerjemah, Anda harus memiliki pengetahuan yang kuat atas sintaks, frase, atau etimologi (asal usul kata) dari kata-kata agar dapat menerjemahkannya secara efektif ke dalam arti yang sebenarnya. Akan tetapi, kemampuan ini tidak selalu dimiliki jika Anda memulai sebagai seorang penerjemah. Jadi apa saja 5 kesalahan umum dalam penerjemahan?

Penerjemah pemula sering mengalami kesulitan dengan terjemahan kata-kata yang benar karena mereka merih harus merasa percaya diri akan beberapa aturan penting dalam penerjemahan. Karena mereka baru masuk dalam industri terjemahan, mereka seringkali menghadapi banyak kesulitan. Menerjemahkan dari bahasa yang bukan bahasa ibu ke dalam bahasa ibu dan sebaliknya memang butuh waktu.

Di lain pihak, penerjemah juga harus menghadapi masalah-masalah terkait klien, misalnya kesalahan komunikasi, ketidakpatuhan, dan ketidakmampuan untuk memasarkan diri. Karena mereka adalah pemula, mereka membuat kesalahan tertentu yang lebih bersifat impulsif.

1.      Menerjemahkan Arti Apa Adanya
Banyak penerjemah pemula membuat kesalahan dengan menerjemahkan naskah kata demi kata. Sebagai penerjemah, Anda perlu menafsirkan sebuah naskah ke dalam bahasa lain dengan gaya yang sama seperti yang dimaksudkan. Ada beberapa aturan sintaksis yang untuk berbagai bahasa yang harus Anda pahami sebelum menerjemahkan. Anda harus memahami penggunaan subjek dan objek dari berbagai bahasa. Misalnya, Anda tidak bisa menyamakan terjemahan bahasa Inggris ke bahasa Arab karena keduanya memiliki sintaks yang berbeda.
Gunakan kamus kapan saja Anda harus menerjemahkan naskah, karena hal itu akan memahami Anda dalam penggunaan kata yang tepat. Anda juga dapat meminta seseorang penutur bahasa asli (native speaker) untuk memeriksa hasil terjemahan untuk memastikan bahwa gaya naskah yang dipakai sudah benar.

2.      Melebih-lebihkan Arti Kata
Penerjemah pemula cenderung untuk melebih-lebihkan tugas terjemahan karena kurang pengalaman. Saat mereka menggeluti profesi ini, mereka ingin memberikan yang terbaik. Akan tetapi hal ini tidaklah diharapkan jika Anda menjadi seroang penerjemah profesional. Untuk menerjemahkan sebuah naskah secara efektif, kita tidak boleh melebih-lebihkannya dengan kata-kata teknis atau kalimat yang kompleks atau bahkan tidak mengandung arti yang dimaksud di dalam bahasa sumbernya.
Anda harus terlebih dahulu memahami persyaratan klien Anda dan melakukan terjemahan sesuai dengan persyaratan tersebut. Pahami spesifikasi yang diinginkan klien dan diharapkan dari Anda. Tanyakan kepadanya tentang akan dipakai pada apa naskah yang akan diterjemahkan. Jika hal itu adalah untuk penggunaan pribadi, jaga agar terjemahan tetap simpel. Namun jika diperlukan untuk keperluan penerbitan, Anda harus mematuhi panduan atau satandar dari si penerbit.

3.      Memakai Kata-Kata yang Salah
Penerjemah pemula seringkali menggunakan kosa kata dalam konteks yang salah. Ada beberapa kata tertentu yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain.
Penerjemah seringkali pula sulit membedakan kata-kata yang merujuk pada jenis kelamin tertentu. Meski dalam bahasa Indonesia pembedaan kata-kata untuk jenis kelamin laki-laki dan perempuan tidak ada. Dalam bahasa Indonesia kesalahan ini seringkali terkait dalam penggunaan kata we, us, ours yang banyak sering hanya menggunakan kata kami saja, dan mengindahkan kemungkinan kata “kita” yang menunjukkan kepemilikan. Pahamilah aturan-aturan seperti ini untuk menjadi seorang penerjemah yang efektif.

4.      Kurangnya Keterampilan Berkomunikasi

Penerjemah pemula terkadang bisa menjadi komunikator yang buruk. Mereka melupakan pentingnya komunikasi yang efektif dan karena itu berakhir dengan hasil terjemahan yang buruk. Seperti dalam bisnis lain mana pun, komunikasi merupakan jembatan antara Anda dan pelanggan. Untuk menciptakan pemahaman yang baik dengan klien, seorang penerjemah harus harus terlibat dalam komunikasi dua arah. Anda harus berinteraksi dengan klien di setiap ingkatan proses terjemahan. Dengan saluran komunikasi yang kuat, Anda bisa menurunkan kesalahpahaman dengan klien sehingga dapat menghasilkan terjemahan yang lebih baik.

5.      Penggunaan Gaya Bahasa yang Tidak Tepat

Penerjemah pemula mungkin belum memahami sepenuhnya aspek-aspek pemberian gaya dalam sebuah naskah. Karena tidak begitu mengenal gaya bahasa sasaran, mereka menafsirkan dokumen tanpa menggunakan gaya yang tepat. Ini akan mengubah inti dari sebuah skrip, dan pada akhirnya, menghilangkan jiwanya. Untuk menyampaikan arti sebenarnya dari sebuah topik, kita harus menerjemahkan sebuah dokumen dengan nuansa yang tepat. Misalnya, naskah dokumen hukum akan terdengar sangat berbeda dari naskah sebuah film. Agar mahir menjadi penerjemah, Anda harus bekerja keras dalam aspek penerjemahan ini.